Sabtu, 15 Agustus 2009

benda cagar budaya sebagai aset daerah

Benda Cagar Budaya (BCB) sebagai tinggalan sejarah adalah merupakan salah satu sumber potensial dalam pengenalan budaya khususnya budaya suatu daerah tertentu. Selain itu BCB juga merupakan warisan budaya yang memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat awam.

Harus diakui bahwa kesadaran akan kepentingan sejarah di masyarakat Indonesia baru berkembang pada beberapa dekade terakhir ini. Pengetahuan sejarah sangat berperan dalam pengembangan kepribadian bangsa. Namun demikian bukan berarti dengan mengetahui nilai-nilai lalu kita harus mengembalikan cara hidup yang lama ke masa kini.

Sejarah memberi sejumlah pengetahuan tentang nilai-nilai kearifan lokal terutama kepada generasi muda yang cenderung terreduksi nilai dan moral budayanya saat ini. Menumbuhkan kesadaran sejarah adalah upaya menumbuhkan identitas dan jati diri bangsa yang berbudaya. Tak heran sang proklamator “Bung Karno” selalu berpesan “Jangan Pernah Melupakan Sejarah”.

Sadar atau tidak, sejarah negeri ini menyimpan begitu banyak cerita yang tak pernah uzur. Fakta masa lalu yang hingga kini masih dapat kita lihat dan nikmati adalah benteng-benteng tinggalan bangsa Eropa, merupakan bukti betapa kekayaan negeri ini dengan cengkeh-palanya menggoda orang-orang Eropa untuk datang mencari “barang berharga” negeri ini serta nafas segar kemerdekaan yang kita rasakan kini merupakan hasil keringat dan darah dari mereka yang tengah ‘berbisik dari heningnya malam’, yang telah terbujur kaku, kata Chairil Anwar.

Jika perseptif tentang sejarah seperti ini tumbuh di tengah-tengah hiruk-pikuknya globalisasi yang cenderung mengikis identitas bangsa tentunya kesadaran akan budaya dan jati diri sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat dapat mewujud dalam setiap sikap generasi kita.

Melalui kegiatan wisata sejarah Matahati, merupakan bagian dari upaya kami dalam melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya lokal Maluku Utara, mendapat tanggapan dan antusiasme dari generasi muda Maluku Utara. Akhirnya kami sampaikan selamat menikmati keunikan budaya dan sejarah Moloku Kie Raha dalam teropong wisata sejarah. Semoga bermanfaat.


Benteng Tolucco


Benteng ini semula dibangun oleh Francisco Serao (Portugis) pada tahun 1540, kemudian direnovasi oleh Pieter Both (Belanda) pada tahun 1610. Benteng ini sering disebut benteng Holandia atau Santo Lucas, terletak di bagian utara pusat kota Ternate, dengan arah hadap 800 LU. Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1661 mengizinkan Sultan Madarsyah untuk menempati benteng ini dengan kekuatan pasukan sebanyak 160 orang. Letak benteng Tolucco di kelurahan Dufa-dufa yang berjarak 2 km.

Pada dinding sebelah kiri setelah pintu masuk terdapat pahatán lambang yang hingga kini belum diketahui makna pahatán tersebut. Jika melihat kondisi benteng saat ini, secara sepintas nampak baik adalah karena benteng ini pernah dipugar pada tahun 1996. Pemugaran yang dilakukan pada beberapa bagian telah menghilangkan keaslian bangunan. Hal mana dicontohkan dengan hilangnya bukti terowongan bawah tanah yang terhubung langsung dengan laut, yang menurut masyarakat sekitar bermula dari ruangan bawah dalam benteng. Begitupun dengan beberapa penambalan bagian-bagian yang terlepas dari bangunan, yang menggunakan bahan baku modern secara menonjol. Tereduksinya keaslian benteng akibat dari pemugaran yang pernah dilakukan dengan jelas akan mengurangi aspek informasi yang dapat ditunjukkan oleh data artefak secara kontekstual.


Benteng Kalamata


Benteng Kalamata sering juga disebut benteng Santa Lucia atau juga benteng Kayu Merah. Benteng ini semula dibangun oleh Pigafetta (Portugis) pada tahun 1540, kemudian dipugar oleh Pieter Both (Belanda) pada tahun 1609. Pada tahun 1625 benteng ini pernah dikosongkan oleh Geen Huigen Schapenham, kemudian tahun 1672 oleh Gils van Zeist.

Benteng yang dikosongkan ini kemudian diduduki oleh bangsa Spanyol hingga tahun 1663. Setelah diduduki oleh Belanda, benteng ini diperbaiki oleh Mayor von Lutnow pada tahun 1799. Nama benteng Kalamata diambil dari nama seorang Pangeran Ternate yang meninggal di Makassar pada bulan Maret 1676.

Jika dilihat dari atas, maka bentuk keseluruhannya juga akan menimbulkan multi interpretasi, pada benteng yang terletak di Kelurahan Kayu Merah ini. Dari kondisi fisik saat ini setelah dipugar nampak seperti bangunan baru, sehingga sulit untuk menilai keaslian tinggalannya. Terlebih laporan tentang pemugaran yang dilakukan tidak dapat diakses oleh masyarakat luas, sehingga kelengkapan informasi tentang Benteng Kalamata sangat minim dirasakan.

Benteng yang oleh penduduk setempat disebut dengan benteng Kota Janji ini dibangun oleh penguasa Portugis di suatu lokasi pada ketinggian 50 meter dari permukaan laut di sebelah utara Kelurahan Ngade. Di benteng ini pernah bertemu dua kolom pasukan yang dibagi oleh Don Pedro de Acuna, Gubernur Jenderal Spanyol di Filipina yang pada tanggal 15 Januari 1606 mulai berlayar ke Maluku dan pada 26 Maret tiba di Teluk Talangame. Pertemuan dua kolom pasukan yang terkoordinir dengan baik ini adalah dalam rangka serangan gabungan antara orang Spanyol dan orang Tidore terhadap Ternate yang dimulai pada waktu subuh tanggal 1 April 1606. Pada saat serangan terjadi benteng ini baru saja dibangun.

Dalam serangan tersebut, Don Pedro mengerahkan prajurit lapangannya pada posisi untuk mengadakan pagar penembakan dan sekaligus mengetahui bahwa orang Ternate banyak mempunyai meriam besar untuk membalas tembakan mereka. Gerakan Spanyol yang menjadi ancaman pada benteng, menjadikan para pembela benteng berspekulasi keluar dari tembok untuk bertempur satu lawan satu. Pada siang harinya prajurit pertahanan tersebut menjadi lelah dan banyak yang menyerah, sehingga orang Spanyol mendapatkan kemenangan.

Dari benteng inilah Don Pedro mengalihkan prajuritnya untuk mengepung Kastil dan kota Gammalamma, markas besar dan tempat tinggal Sultan Ternate pada masa itu. Namun sebelum orang Spanyol sampai ke tempatnya (Kastil), Sultan Said (cucu Sultan Khairun) telah pergi (Anonim,1992:84). Pada tahun 1610 benteng ini oleh penguasa Spanyol dilengkapi dengan 6 meriam dan dihuni oleh 27 orang Spanyol, 20 orang Portugis dan beberapa orang Filipina.

Kondisi benteng saat ini secara fisik struktur batuannya masih dalam keadaan baik, meski pernah terjadi keruntuhan tembok dindingnya (Foto 46). Ini dimungkinkan pernah ada renovasi terhadap benteng San Pedro y San Pablo. Jika telah ada renovasi, yang tidak diketahui kapan tepatnya, maka upaya tersebut telah menghilangkan keaslian bahan baku penunjangnya. Ini dikarenakan bentuk yang ada sekarang secara kasat mata masih sangat kasar, sehingga tidak mencerminkan bangunan benteng bersejarah. Hanya struktur kolam di depan benteng sajalah yang masih terlihat keasliannya. Termasuk lubang sumur dekat dinding barat daya benteng ini.


Benteng Oranje


Benteng ini dibangun pada tahun 1607 oleh Cornelis Matelief de Jonge (Belanda) dan diberi nama oleh Francois Wittert pada tahun 1609. Benteng Orange ini semula berasal dari bekas sebuah benteng tua yang didirikan oleh orang Melayu dan diberi nama Benteng Malayo. Di dalam benteng ini pernah menjadi pusat pemerintahan tertinggi Hindia Belanda (Gubernur Jenderal) yaitu Pieter Both, Herald Reynst, Laurenz Reaal, dan Jan P. Coen. Di benteng ini pernah pula dijadikan sebagai markas besar VOC di Hindia Belanda hingga Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen memindahkan markas besarnya ke Batavia pada tahun 1619. Benteng ini mampu menunjukkan kemampuan manfaaat daya pertahanannya terhadap serangan Spanyol, ketika Spanyol menyeberang secara diam-diam pada malam hari dari benteng Gammalamma (Kastela) melalui lorong yang sukar dengan 250 orang tiba di benteng Oranje waktu subuh, dapat dipukul mundur oleh Belanda dalam pertempuran seru satu lawan satu. Belanda dengan empat puluh orang prajuritnya yang dibantu oleh sekitar seratus orang Ternate mampu mempertahankan benteng. Perang di benteng Oranje tahun 1606 ternyata merupakan pertempuran serius antara Belanda dan Spanyol di daerah itu.

Tembok benteng yang berbahan baku batu bata, batu kali, batu karang dan pecahan kaca, ini menyisakan 13 buah meriam yang masih insitu di dalam benteng karena tidak ada bekas aktifitas penempatan baru. Meski dicurigai, beberapa di antaranya telah hilang dari tempat asalnya, ini dikarenakan pada sudut barat laut sama sekali tidak ditemukan meriam. Dilihat dari bentuk bangunan pada sudut tersebut serupa dengan sudut-sudut lainnya sebagai pos penjagaan dan pengintaian. Hilangnya meriam juga diketahui dari bekas pondasi meriam di lantai II tepat di atas pintu gerbang.

Ruang-ruang pada lantai I yang terdapat di sepanjang tembok berada dalam kondisi memprihatinkan. Pada sudut barat laut bahkan telah tertimbun tanah sekitar, sehingga sulit untuk diidentifikasi. Pada ruang sepanjang 15,80 m di pintu gerbang dan pada dinding sisi luarnya terdapat tumpukan batako, yang tidak ada konteksnya dengan benteng. Begitu pula kondisi bangunan penjagaan di belakang pintu gerbang, yang tersisa hanyalah puing.

Benteng Kota Naka

Benteng ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18. Letaknya hanya beberapa meter di samping kiri Kedaton (Keraton) Sultan Ternate di atas sebuah bukit. Benteng ini diberi nama sesuai dengan penyebutan ”naka” (nangka), yang menurut masyarakat sekitar hal itu berkaitan dengan aroma nangka yang dapat tercium dari kejauhan. Apakah pernah terdapat pohon nangka, sejauh ini tidak dapat diketahui dengan pasti. Ini dipersamakan dengan dengan fungsi benteng ini, yaitu untuk mengawasi gerak-gerik sultan dalam menyelenggarakan pemerintahan selain untuk benteng pertahanan Belanda. Artinya bahwa berita dari benteng ini lebih cepat menyebar di masyarakat tentang kondisi kerajaan.

Saat ini benteng Kota Naka telah mengalami penambahan struktur temboknya, meninggi 2 (dua) meter dari batas atas tembok aslinya. Begitu pun dengan bangunan di dalamnya, kini merupakan rumah kecil dalam bentuk kebanyakan. Pada dinding tembok bagian depan, telah berubah menjadi hiasan dinding mirip dinding kolam taman.


Benteng Kastela


Benteng ini dibangun oleh Antonio de Brito pada tahun 1521 dengan nama Nostra Senora del Rosario, kemudian dilanjutkan oleh Garcia Henriques pada tahun 1525 dan pada tahun 1530 oleh Gonzalo Periera serta yang terakhir diselesaikan oleh Wali Negeri kedelapan Jorge de Gastro pada tahun 1540.

Di benteng inilah terjadi pembunuhan terhadap Sultan Khairun oleh Antonio Pimental atas perintah Gubernur Portugis Lopez de Mosquita pada tanggal 27 Februari 1570. Atas peristiwa tersebut putra Sultan Khairun, Baabullah (1570-1583) bangkit melawan Portugis dan akhirnya Portugis terusir dari benteng Kastela dan Ternate pada tahun 1575.

Saat terjadi pengepungan dan penyerangan benteng ini dan kota oleh orang Spanyol setelah tanggal 1 April 1606, maka Spanyol cepat menguasai beberapa posisi yang dipertahankan dan mengambil lima puluh tiga meriam tembaga besar yang ada di dalam benteng. Dalam penyerbuan di kota ini mereka menemukan barang rampasan berharga lainnya. Di dalam balai dagang Belanda mereka mendapatkan satu gudang dengan dua ribu ducat, peti penuh dengan barang dagangan dan cengkeh dalam jumlah banyak. Bagi mereka pertempuran sehari itu mengakibatkan lima belas orang meninggal dan dua puluh orang luka-luka. Sedangkan orang Ternate kehilangan prajurit paling sedikit dua kali lebih banyak serta miliknya yang berharga.

Orang Spanyol mencantumkan sebagai persyaratan pertama untuk perdamaian bahwa Sultan harus menyerahkan diri dan mengakui kedaulatan Spanyol kemudian mereka (Spanyol) akan menjamin keamanan pribadinya. Sultan Said setuju untuk kembali (ke Ternate ?). Spanyol memakai kedatangannya kembali untuk mengadakan beberapa upacara pemerintahan yang menunjukkan hormat kerajaan kepadanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar